Vacation To Sabang (1)
Hari jum’at kemarin gw bersama temen-temen sekantor gw berlibur ke sabang dalam rangka mengisi liburan natal selama 3 hari. Banyak sekali kenangan selama berlibur di sana, dari senang, bahagia sampai gembira. Campur aduk..
Dalam postingan yang akan gw sajikan dalam beberapa part ini, gw akan menceritakan bagaimana liburan gw di Sabang, apa itu Sabang, apa itu nol kilometer Indonesia, bagaimana bentuknya, hmm.. banyak yang akan gw ceritain ke kalian tapi ga sekarang gw ceritain karena gw sendiri lagi banyak kerjaan sekarang, nanti kalo kerjaan gw agak mereda baru gw ceritain selengkapnya. Oke fren??
Sebelumnya makasih ya dah terus mantengin blog gw..
Wish you all the luck and enjoy it..
^_^
2 Comments to “Vacation To Sabang (1)”
Add Comments (+)-
Salam..Jakarta Maghrib, slaahs satu film yang baru saja saya tonton dan saya diskusikan dengan berbagai teman.. Saya melihat Jakarta Maghrib adalah sebuah representasi mini dari keadaan perfilmman di Indonesia.. Dalam hal ini saya melihat film pertama dengan adegan-adegan dan penceritaan seperti komedi seks yang memang sedang marak. Film kedua memperlihatkan genre film religi, genre aman dengan tujuan penonton jelas, kalo beruntung bisa box office kalo flop masih cukup banyak yang nonton. Film ketiga, lebih kepada film yang tak jelas arahnya, obrolan ringan menjadi berisi namun tidak padat, film-film tanpa penyelesaian dan awal yang jelas. Film keempat, dapat dilihat sebagai film dengan muatan horor dan dibangun dengan cerita yang tidak jelas, seperti cerita-cerita film horor Indonesia pada umumnya. Film kelima adalah sebuah cinta picisan dengan berbagai dialog romantis, genre ini masih bertahan di Indonesia dan ‘mewarnai’ dinamika perfilmman di Indonesia..Masih berhubungan dengan konteks besar mengenai perfilmman Indonesia tersebut, wajah film Indonesia memang sangat tua.. Dan sudah cukup berumur, sudah bukan saatnya untuk kembali mencari jati diri. Jati diri film Indonesia sudah tampak sejak dulu, generasi Teguh Karya atau bahkan jauh kebelakang. Film Indonesia itu baik, enak dinikmati, bagai nasi goreng dengan bumbu khas si Aki sayangnya film Indonesia “gembos”.. Niat-niat atau cerita-cerita yang sebenarnya sangat berkualitas harus terhalang berbagai hal yang menyebabkan cerita tersebut terkesan “gembos”..Banyak ekspektasi tinggi tentang film Indonesia, namun ketika menyaksikannya tidak sesuai dengan harapan, “gembos” seperti yang saya bilang. Membicarakan film, membicarakan budaya, membicarakan kultur.. Apakah Jakarta Maghrib menyimpan pesan lain?Sadarkah, dialog dalam Jakarta Maghrib beberapa kali menyinggung soal “film”? Film pendek yang diklaim hanya bisa dibuat di rumahan dengan hasil yang tidak akan bisa menyamai film horor dengan Kuntilanak, atau komunitas film independent yang jika berkumpul hanya diisi dengan mabuk dan mengganggu sekitar, dan mungkin seorang perintis karir di film Independent yang harus bertarung dengan norma-norma masyarakat bahwa bekerja harus selalu menghasilkan uang?Itukah yang sedang dialami para filmmaker muda Indonesia? Ketika mereka merintis karir, seorang mengingatkan mereka untuk berhenti karena tidak mempunyai masa depan? Sekalipun harus rela berpindah mimpi dari Sutradara menjadi seorang Editor?Film Indonesia memiliki banyak bakat baru, film Indonesia bukan lagi sedang mencari bentuk, film Indonesia sedang mencari solusi untuk tidak lagi terkesan “gembos”, dan banyak lagi yang dapat menjadi bahan renungan..Secara keseluruhan, Jakarta Maghrib kuat dari segi cerita dan teknis.. Bahkan kita bisa lihat bagaimana sosok-sosok perempuan tergambar.. Apakah perempuan akan selalu merasa yang paling benar ketika mereka menangis? Budaya patriarki tidak akan dapat dengan mudah hilang, seorang scriptwriter pria akan melihat perempuan dari sudut pandang dia.. Dan Jakarta Maghrib dengan cukup jelas menyajikannya..Tidak semua perempuan berani melawan suaminya, bahkan rela untuk melawan norma demi suaminya.. Tidak semua perempuan dapat menjadi pengobar semangat, pencetus ide-ide briliant ketika para laki-laki memutuskan untuk tidak mendukung mereka, apa perempuan dapat berjalan sendiri? Tidak semua perempuan dapat melawan ego laki-laki, menangis cara terbaik?Pandhu AdjisuryaSalam Sinema Mahasiswa!












lah..? ga da foto2nya..?
salam kenal
maaf baru sempat kunjungan balik